Syukur, LILIT, dan Inisiasi Pertama di Gunung Bromo
Dalam perjalanan batin Jero Abdi, kehadiran Guru Untung Iriyanto bukan sekadar pertemuan dengan seorang pribadi yang lebih tua, lebih berpengalaman, atau lebih lama menjalani laku spiritual. Kehadiran beliau menjadi bagian penting dari proses penataan diri: sebuah ruang belajar tentang syukur, kesabaran, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap kehidupan.
Seorang murid sering datang kepada guru dengan membawa banyak lapisan dalam dirinya. Ada pertanyaan yang belum selesai, luka yang belum tertata, keinginan yang belum jernih, dan arah hidup yang masih mencari bentuk. Dalam keadaan seperti itu, guru tidak selalu hadir dengan jawaban panjang. Kadang guru hadir melalui ketenangan, kesabaran, dan cara memandang hidup yang membuat murid perlahan-lahan belajar melihat dirinya sendiri.
Begitulah Jero Abdi belajar dari Guru Untung Iriyanto. Pelajaran besar yang diterima bukan hanya berupa kata-kata, tetapi juga melalui sikap, kehadiran, dan cara beliau menjalani hidup. Salah satu ajaran yang paling mendalam adalah syukur. Syukur tidak diajarkan sebagai hiasan bahasa, tetapi sebagai keadaan batin yang ditumbuhkan dengan penuh kesabaran.
Syukur yang sejati bukan hanya ucapan ketika keadaan sedang baik. Syukur adalah kemampuan untuk tetap melihat nilai di tengah keadaan yang belum sempurna. Syukur adalah kesanggupan untuk tidak terus-menerus menuntut hidup agar selalu sesuai dengan kehendak pribadi. Syukur membuat manusia tidak mudah merasa kurang, tidak mudah menyalahkan keadaan, dan tidak mudah kehilangan kejernihan ketika hidup berjalan tidak seperti yang diharapkan.
Guru Untung Iriyanto mengajarkan syukur bukan dengan tekanan, bukan dengan paksaan, dan bukan dengan sikap yang membuat murid merasa kecil. Beliau mengajarkannya melalui kesabaran. Kesabaran seorang guru yang memahami bahwa murid tidak selalu langsung mengerti. Murid kadang perlu waktu untuk menerima. Murid kadang perlu mengalami sendiri sebelum pengetahuan benar-benar masuk ke dalam kesadarannya.
Di sinilah hubungan guru dan murid menemukan kedalamannya. Guru tidak hanya menyampaikan ajaran. Guru menjaga ruang agar murid dapat bertumbuh tanpa dipaksa, tetapi juga tanpa dibiarkan tersesat oleh egonya sendiri. Guru tidak mengambil alih hidup murid. Guru membantu murid membaca dirinya, mengenali arah batinnya, dan menata kembali langkah hidupnya.
Hubungan Jero Abdi dan Guru Untung Iriyanto juga menjadi istimewa karena berdiri di atas penghormatan yang melampaui batas lahiriah. Mereka berbeda agama, keyakinan, kepercayaan, budaya, adat, dan tradisi. Namun perbedaan itu tidak menjadi tembok pemisah. Justru di dalam perbedaan itulah tampak keagungan hubungan guru dan murid.
Ketika dua jiwa dapat saling menghormati tanpa harus saling menyeragamkan, di sana ada ruang sakral yang sedang bekerja. Perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk menjauh, tetapi menjadi ruang untuk belajar melihat kemanusiaan secara lebih luas. Dalam hubungan seperti ini, yang dijaga bukan keseragaman bentuk, melainkan ketulusan, adab, penghormatan, dan kesadaran.
Hubungan guru dan murid bukan hubungan biasa. Ia bukan sekadar hubungan sosial, bukan sekadar hubungan pengetahuan, dan bukan pula sekadar hubungan antara yang mengajar dan yang diajar. Dalam makna yang lebih dalam, hubungan guru dan murid adalah hubungan sakral karena di dalamnya ada penerimaan, penyerahan ego, tanggung jawab, dan kesediaan untuk ditata oleh pengetahuan.
Bagi seorang murid, guru dapat menjadi perwakilan Tuhan yang nyata dalam kehidupan. Bukan karena guru menggantikan Tuhan. Bukan karena guru harus disembah. Bukan pula karena guru bebas dari kekurangan sebagai manusia. Tetapi karena melalui guru, seorang murid dapat merasakan bentuk nyata dari tuntunan, kesabaran, teguran, perlindungan, dan kasih yang menata hidup.
Tuhan sering kali tidak hadir melalui suara yang langsung terdengar. Tuntunan-Nya dapat hadir melalui peristiwa, kehilangan, perjalanan, perjumpaan, dan manusia yang dikirim sebagai cermin. Dalam hidup seorang murid, guru adalah salah satu bentuk cermin itu. Melalui guru, murid belajar melihat dirinya. Melalui guru, murid belajar menata hatinya. Melalui guru, murid belajar bahwa pengetahuan yang benar tidak selalu menyenangkan ego, tetapi selalu membawa jiwa kepada kejernihan.
Salah satu bagian penting dalam perjalanan Jero Abdi bersama Guru Untung Iriyanto adalah LILIT. Jero Abdi belajar LILIT dari Guru Untung Iriyanto, yang juga dikenal sebagai penemu LILIT. LILIT tidak lahir dari angan-angan singkat atau keinginan untuk menciptakan sesuatu yang baru. LILIT lahir dari perjalanan panjang, dari laku batin yang sunyi, dan dari proses meditasi mendalam yang dijalani Guru Untung Iriyanto di Gunung Bromo.
Gunung Bromo menjadi ruang sakral dalam perjalanan itu. Di hadapan alam yang luas, sunyi, dan agung, Guru Untung Iriyanto menjalani proses batin yang tidak ringan. Meditasi di Gunung Bromo bukan sekadar duduk diam, tetapi perjalanan mengosongkan diri dari keramaian ego, membaca tanda-tanda kehidupan, dan membuka diri kepada tuntunan yang lebih tinggi.
Dari perjalanan panjang itu, LILIT ditemukan sebagai buah dari ketekunan, kesabaran, dan penyerahan diri. Karena itu, LILIT bukan sekadar pengetahuan teknis. Ia memiliki jejak batin, sejarah laku, dan tanggung jawab spiritual yang perlu dijaga dengan adab.
Di puncak Gunung Bromo, Jero Abdi menerima inisiasi pertama LILIT dari Guru Untung Iriyanto. Peristiwa ini menjadi penanda penting dalam hubungan guru dan murid. Inisiasi tersebut bukan sekadar penyerahan ilmu, tetapi juga penyerahan amanah. Seorang murid tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga menerima tanggung jawab untuk menjaga, memahami, dan menjalankannya dengan hati yang bersih.
Inisiasi pertama itu menjadi pintu bagi Jero Abdi untuk mengenal LILIT bukan hanya sebagai sesuatu yang dipelajari, tetapi sebagai sesuatu yang diterima melalui hubungan batin yang sakral. Di sana ada kepercayaan. Ada penghormatan. Ada kesiapan untuk dibimbing. Ada kesediaan untuk menundukkan ego di hadapan pengetahuan yang lebih besar daripada keinginan pribadi.
Seorang guru sejati tidak memberikan pengetahuan untuk membuat murid merasa lebih tinggi. Guru sejati memberikan pengetahuan agar murid menjadi lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih bertanggung jawab. Pengetahuan spiritual yang benar tidak memperbesar kesombongan, tetapi menata pusat diri. Ia tidak menjauhkan manusia dari kehidupan nyata, tetapi membuat manusia lebih jernih dalam menjalani kehidupan.
Jero Abdi belajar bahwa berguru bukan berarti kehilangan diri. Berguru berarti membiarkan diri ditata. Berguru berarti mengakui bahwa ada bagian dalam diri yang belum matang. Berguru berarti memahami bahwa tidak semua hal dapat dipahami hanya dengan pikiran. Ada pengetahuan yang perlu dialami, dijalani, dan dibuktikan melalui perubahan sikap hidup.
Dalam ruang inilah hubungan Jero Abdi dan Guru Untung Iriyanto menemukan marwahnya. Hubungan itu tidak berdiri di atas persamaan identitas lahiriah, tetapi di atas penghormatan batin. Perbedaan agama, keyakinan, budaya, adat, dan tradisi tidak menghapus nilai sakral dari hubungan tersebut. Justru perbedaan itu menjadi pengingat bahwa kebenaran, kasih, kesabaran, dan syukur dapat dikenali oleh hati yang terbuka.
Di hadapan guru, murid belajar menundukkan kesombongan. Di hadapan murid, guru belajar menjaga amanah. Keduanya bertemu dalam ruang yang saling memuliakan. Guru tidak menjadikan dirinya pusat kuasa. Murid tidak menjadikan guru sebagai berhala. Yang dijaga adalah adab, pengetahuan, dan kesadaran bahwa setiap perjumpaan yang mendalam selalu membawa pesan Tuhan dalam bentuk yang sederhana.
Dalam Aksara Diri, kisah ini dapat dibaca sebagai bagian dari perjalanan membaca diri, menata energi, dan kembali hadir dari pusat yang lebih jernih. Atensi perlu dijaga agar tidak tercecer oleh ego. Koneksi perlu dipulihkan agar hubungan dengan guru, sesama, alam, dan Tuhan tidak terputus oleh prasangka. Intensi perlu ditata agar pengetahuan yang diterima tidak digunakan untuk kebanggaan diri, tetapi untuk pengabdian.
Guru Untung Iriyanto menjadi salah satu tanda nyata bagaimana Tuhan membimbing seorang murid melalui manusia. Melalui beliau, Jero Abdi belajar syukur. Melalui beliau, Jero Abdi mengenal LILIT. Melalui beliau, Jero Abdi menerima inisiasi pertama di puncak Gunung Bromo. Dan melalui hubungan guru dan murid itu, Jero Abdi memahami bahwa pengetahuan yang sejati tidak hanya masuk ke pikiran, tetapi menata hati, menguatkan jiwa, dan mengubah cara seseorang menjalani hidup.
Pada akhirnya, guru yang sejati tidak hadir untuk mengikat murid kepada dirinya. Guru hadir untuk mengantar murid kembali kepada Tuhan, kepada kesadaran, kepada tanggung jawab, dan kepada hidup yang lebih jernih. Guru menjadi perwakilan Tuhan yang nyata bagi murid bukan karena ia menggantikan Tuhan, tetapi karena melalui dirinya murid belajar mengenali tuntunan Tuhan dalam kehidupan.
Di sanalah hubungan Jero Abdi dan Guru Untung Iriyanto menemukan keagungannya: hubungan sakral antara seorang guru yang menjaga amanah pengetahuan dan seorang murid yang bersedia dituntun. Sebuah hubungan yang tidak berhenti pada manusia, tetapi mengantar jiwa untuk membaca jejak Tuhan melalui syukur, kesabaran, LILIT, dan perjalanan batin yang dijalani dengan penuh hormat.
